Langsung ke konten utama

Kisah Alma Sang Penghafal Al Quran

ARKADIGITAL.ID |TentangCinta - Kisah perempuan penghafal Al Quran yang inspiratif ini sangatlah menyentuh hatiku. Betapa tidak ? … Alma seorang hafidzah adalah mahasiswi di perguruan tinggi swasta di kota Cirebon dengan tujuh orang anak. Usia sekitar 35 tahun. Sehari-hari dia berjualan roti bakar di depan rumahnya yang sederhana untuk menopang ekonomi keluarga. Di sore hari, ia mengabdikan dirinya mengajar mengaji Al Quran untuk anak-anak sekitar rumahnya. Suaminya sendiri pekerja serabutan

Apa yang menjadikan dirinya istimewa, bukanlah soal kesederhanaannya. Tetapi semangatnya untuk belajar yang luar biasa. Dia bertekad menjadi perempuan yang maju, untuk itu dia memutuskan kuliah di jurusan ilmu Al’Qur’an dan Tafsir di ISIF Cirebon.

Perjalanan menuju kampus bukanlah perkara gampang. Dia harus menempuh perjalanan sekitar 13 kilometer dari desanya di Plumbon ke kampus di Majasem. Berganti angkutan kota dua kali. Belum ditambah lagi, dia harus berjalan kaki dari rumah sampai jalan raya untuk mendapatkan angkutan kota. Kadang anaknya yang terkecilpun harus diajak karena di rumah tak ada yang menjaga.

Alma … Mahasiswa bersahaja dengan segunung semangat. Tak putus asa menjalani hidupnya, berbagai kerumitan, kelelahan perjalanan, juga mengurus anakanaknya. Tak luput dia adalah penopang ekonomi keluarga. Ketegarannya pun sesring diuji dengan adanya cemoohan tetangga sekitar yang tidak menyakini dia akan berhasil menjalani kuliahnya. Bahkan ada yang mengatakan kuliah itu tidak bermanfaat bagi orang kecil di kampung apalagi dia perempuan.

Seorang teman dosen Mba Farida Mahri menuliskannya di status Facebook : ‘Suatu kali ini Alma ke kampus dengan membawa anaknya. Dia menyerahkan laporan kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukannya. Kegiatan selama dua bulan penuh dijalaninya tanpa lelah. Bersepeda ontel ke lokasi pengabdian hampir setiap hari. Kegiatan ini ingin diteruskannya sekaligus menjadi penelitian bagi skirpsinya kelak’.

Aku sungguh malu. Beragam fasilitas aku miliki, namun kadang rasa enggan melingkupi. Bercermin kepada Alma semoga tak ada lagi kata pantang menyerah.
Aku berharap sangat semoga ada Alma-alma yang lain. Perempuan-perempuan tangguh nan gigih yang tak kenal putus asa untuk kemajuan hidupnya serta bermanfaat bagi sesama. Semoga Allah Yang Maha Adil lagi Maha bijaksana selalu memberikan karunia-Nya, aamiin ….

Sumber: https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/ perempuan-bercerita-kisah-alma-sang-penghafal-alquran_55e0232492fdfde014dbd6a8

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gangguan Pendengaran Tak Menghalangi Haydar Jadi Penghafal Al-Quran

ARKADIGITAL.ID | TentangCinta  - Suaranya begitu lancar dan jelas melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Remaja itu bernama Ali Haydar. Sungguh dari suaranya tak terdengar dia ternyata mengalami gangguan pendengaran dengan kategori sangat berat di kedua telinganya. Haydar mendengar dibantu dengan satu alat implan koklea di telinga kanan. Kini Haydar bahkan sudah hafal 13 juz Al-Quran. Sudah pasti butuh sebuah kerja keras dan dispilin yang sangat tinggi untuk bisa menghafalkan AlQuran. Untuk mewujudkan cita-citanya menjadi hafidz, Haydar saat ini sekolah di pondok pesantren SMA Madrasah Aliyah Tahfidzul Qur’an As-Surkati di Salatiga, Jawa Tengah. Selain mendalami ilmu agama dan ingin menjadi penghafal Al-Quran, Haydar juga terus rajin belajar untuk mewujudkan cita-citanya menjadi dokter. Ya, dia ingin jadi dokter yang juga seorang hafidz Quran. Dia ingin hidupnya bermanfaat dan bisa membantu banyak orang. Di pondok pesantren, setiap hari Haydar harus menghafalkan satu le...

Kisah Wanita penghafal Qur’an yang ditimpa Penyakit Tumor Otak

ARKADIGITAL.ID | TentangCinta - Sebuah kisah dari perjalanan Aminah Al-Mi’thowi yang mencengangkan, dia bertutur, “Aku adalah wanita yang dulu kuduga bahwa diriku sudah meninggal sebelum lahir, karena aku menghadapi beberapa musibah yang beragam dalam hidupku. Sesuatu yang tidak terbayangkan dalam benakku. Namun. Alhamudillah, keyakinanku pada Allah semakin kuat. Saat aku binggung memaknai kehidupan sekelilingku, aku berserah diri kepada-Nya. Aku dulu berpenyakit tumor otak. Tidak terlalu buruk, tapi penyakit itu mengerikan. Biarpun penanganan terus-menerus dan teratur, tapi tidak ada tanda-tanda baik selama empat tahun. Namun secara internal, aku yakin bahwa Allah tidak mengujiku dengan penyakit melainkan untuk memberiku sesuatu yang luhur lagi agung dan mengampuni dosa-dosaku. Jadi, ujian itu ada pelajaran yang tidak kita ketahui hikmahnya. Terakhir kalinya aku mengunjungi dokter, mataku merasakan dunia tampak gelap disebabkan akhir pemvonisan. Kabar yang selamanya tidak menyena...