Langsung ke konten utama

Ini Cerita Semangat AnakAnak Gaza Menghafal Al-Quran

ARKADIGITAL.ID |TentangCinta - Semangat anak-anak Gaza, Palestina dalam menghafal Alquran tidak pernah padam meski berada di tengah keterbatasan. Salah satunya karena faktor keterbatasan listrik. Meski demikian, kekurangan ini tidak menjadi hambatan. Tidak sedikit dari mereka yang hafal puluhan juz Alquran meski usianya masih belia.

Yahya, seorang pemuda asal Gaza Palestina bercerita bangun pagi dalam keadaan bertemu listrik merupakan sebuah kebahagiaan. Tidak seperti di Indonesia setiap hari kita dapat menikmati listrik. Di Gaza, mereka hampir tak pernah bertemu listrik. “Bagi kami, bangun tidur lalu ada listrik adalah sebuah kebahagiaan,” katanya.

Di balik ketiadaan listrik, anak-anak Gaza justru tumbuh menjadi insan jenius dengan IQ yang berada di atas rata-rata. Yahya menuturkan, adiknya, anak tetangganya, dan teman-teman masa kecilnya tumbuh sebagai anak-anak Gaza yang cerdas.

Yahya berkisah bahwa ia baru saja melintas gerbang perbatasan Rafah 17 Desember lalu. Ia pun menuturkan kisah kehidupannya lahir dan besar di tanah konflik. “Di Gaza lebih memprihatinkan, dengan adanya kungkungan penjara dari Zionis, berbagai macam krisis terjadi mulai dari kelaparan, ketiadaan sanitasi dan yang terpenting adalah krisis listrik. Dalam sehari, listrik biasanya hanya menyala selama 2 jam. Itu pun menyala justru di waktu kami tidur,” ujar pemuda kelahiran 1996 tersebut.

Maka, setelah lewat dari dua jam, penduduk Gaza tidak akan lagi menemukan listrik. Hal paling beruntung adalah jika mereka mendapat pasokan listrik selama lebih dari 6 jam sehari. Momen ini biasanya terjadi ketika ada limpahan listrik yang cukup dari generator tua yang dinyalakan di beberapa sudut Kota Gaza. Tetapi, hal ini sangatlah jarang terjadi.

Karena itu, anak-anak Gaza terbiasa hidup tanpa listrik. Namun demikian, situasi dan kondisi yang pelik tidak menyurutkan semangat mereka untuk tetap belajar terutama dalam mengkaji Alquran.
Sedari fajar mulai membentang, anak-anak Gaza telah berkumpul dalam halaqah di masjid. Sedang para hafidz yang telah akil-baligh memperdengarkan lantunan ayat suci Alquran untuk kemudian mereka hafalkan.

Bagi mereka, Alquran adalah yang utama, mereka belajar hingga Dzuhur. Barulah selepas Dzuhur mereka menuntut ilmu ke sekolah. Dan lagi-lagi, pelajaran yang utama adalah pembelajaran Alquran.
“Alquran adalah napas, dengannya kami hidup. Tidak pernah sekalipun kami meninggalkan Alquran. Oleh sebabnya, dengan keadaan yang begitu terbatas, kami tetap dapat hidup dan berjuang, meskipun dalam keadaan terkepung dan tanpa adanya fasilitas. Ini sudah menjadi hal yang wajar dan menyebar ke seluruh daerah di Jalur Gaza,” tutur Yahya.

Bahkan setiap bulan, gelaran penghargaan untuk para hafiz Quran dilangsungkan di Gaza. “Ada ratusan anak Palestina yang diwisuda sebagai hafiz Alquran dengan hafalan yang berkisar dari 10 juz, 25 juz, hingga 30 juz,” ujar Yahya.

Di Khan Yunis, mayoritas anak-anak Gaza hafal Alquran. Daerah di sebelah sisi timur wilayah Gaza ini berbatasan langsung dengan Israel. Menurut Yahya, di bulan Desember lalu desanya yang hanya berpagar tembok tinggi dengan Israel, baru saja menggelar wisuda bagi penghafal Alquran. Sebanyak 200 orang diluluskan dalam wisuda penghafal Alquran tersebut.

“Jangan ditanya apakah mereka sempat memiliki waktu bermain. Mungkin ada, tapi bagi mereka tak ada waktu luang selain untuk berjihad,” tutur Yahya menyimpulkan apa yang ada di hati sebagian besar anak-anak Gaza.

Situasi dan kondisi yang pelik telah memacu mereka untuk menjadi para penghafal Al-Quran di usia yang masih begitu belia. Sebab tak ada lagi yang mampu mereka lakukan untuk menjadi bekal jihad sekaligus syahid mereka.

“Jika kami masih bermain, menurut kami ini merupakan suatu pengkhianatan. Sebab, tak ada yang lebih penting selain berjihad,” tegas Yahya.

Bergeser ke Selatan Khan Yunis, tepat di daerah perbatasan antara wilayah Palestina dengan wilayah Israel, Yahya menuturkan tak ada rumah atau bangunan apapun selain tenda-tenda seadanya. Tenda terbuat dari terpal-terpal lusuh.

“Mengapa hanya terpal? Sebab kalau ada sebentuk pun bangunan permanen pasti langsung diledakkan meskipun hanya dari papan,” ujarnya.

Ketika setidaknya anak-anak yang berada di dalam kota Gaza masih dapat bersekolah, beda nasib dengan mereka di perbatasan Khan Yunis dan Israel. “Mereka yang tinggal di perbatasan tidak akan pernah mengenyam bangku pendidikan,” tuturnya.

Namun menurut Yahya, bocah-bocah di Khan Yunis, perbatasan antara Israel dan Gaza, jauh lebih pintar dari anak-anak yang bersekolah. Hampir semuanya adalah hafiz Quran. Mereka juga lebih tangguh dan berani sebab merekalah garda terdepan menghadapi tentara Israel. Mereka yang setiap hari selalu melawan tentara Israel, dan setiap hari pula para syuhada berjatuhan.

“Mereka tidak takut karena mereka telah menguasai Al-Quran. Al-Quran adalah utama, tidak masalah tidak mempelajari ilmu lain. Yang terpenting adalah Al-Quran sebab Al-Quran adalah muara segala ilmu,” pungkasnya.

Sumber: http://www.gomuslim.co.id/read/news/2018/01/14/6710/inicerita-semangat-anak-anak-gaza-menghafal-alquran.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Inspirasi Kakek Penghafal Al-Quran

ARKADIGITAL.ID | TentangCinta  - Kisah ini disampaikan oleh Ustadz Bachtiar Nasir dalam sebuah kajian tafsir di AQL yang membahas tentang surat Al-Baqarah ayat 120121. Beliau bercerita tentang kisah nyata seorang kakek tua penghafal quran yang membuat jamaah berdecak kagum. Dalam suatu waktu, ada seorang kakek tua yang hendak dioperasi karena mengalami sakit, dokter menyarankan untuk segera dioperasi demi menyembuhkan penyakitnya. Di luar dugaan, kakek tersebut terisak dalam tangis yang mendalam, dokter pun coba menguatkan dan meyakinkan sang kakek agar kakek tersebut tidak perlu khawatir karena penyakit yang dialaminya akan sembuh atas izin Allah dan tidak perlu khawatir terhadap pelaksanaan operasi karena dokter tersebut sudah berpengalaman untuk operasi penyakit tersebut dan besar sekali kemungkinan keberhasilannya. Lalu kakek tersebut membalas perkataan dokter tersebut… “Dok, bukan itu yang saya khawatirkan, insya Allah saya siap dan tak takut untuk menjalani proses operas...

Kisah Alma Sang Penghafal Al Quran

ARKADIGITAL.ID | TentangCinta  - Kisah perempuan penghafal Al Quran yang inspiratif ini sangatlah menyentuh hatiku. Betapa tidak ? … Alma seorang hafidzah adalah mahasiswi di perguruan tinggi swasta di kota Cirebon dengan tujuh orang anak. Usia sekitar 35 tahun. Sehari-hari dia berjualan roti bakar di depan rumahnya yang sederhana untuk menopang ekonomi keluarga. Di sore hari, ia mengabdikan dirinya mengajar mengaji Al Quran untuk anak-anak sekitar rumahnya. Suaminya sendiri pekerja serabutan Apa yang menjadikan dirinya istimewa, bukanlah soal kesederhanaannya. Tetapi semangatnya untuk belajar yang luar biasa. Dia bertekad menjadi perempuan yang maju, untuk itu dia memutuskan kuliah di jurusan ilmu Al’Qur’an dan Tafsir di ISIF Cirebon. Perjalanan menuju kampus bukanlah perkara gampang. Dia harus menempuh perjalanan sekitar 13 kilometer dari desanya di Plumbon ke kampus di Majasem. Berganti angkutan kota dua kali. Belum ditambah lagi, dia harus berjalan kaki dari rumah sampai ja...

Gangguan Pendengaran Tak Menghalangi Haydar Jadi Penghafal Al-Quran

ARKADIGITAL.ID | TentangCinta  - Suaranya begitu lancar dan jelas melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Remaja itu bernama Ali Haydar. Sungguh dari suaranya tak terdengar dia ternyata mengalami gangguan pendengaran dengan kategori sangat berat di kedua telinganya. Haydar mendengar dibantu dengan satu alat implan koklea di telinga kanan. Kini Haydar bahkan sudah hafal 13 juz Al-Quran. Sudah pasti butuh sebuah kerja keras dan dispilin yang sangat tinggi untuk bisa menghafalkan AlQuran. Untuk mewujudkan cita-citanya menjadi hafidz, Haydar saat ini sekolah di pondok pesantren SMA Madrasah Aliyah Tahfidzul Qur’an As-Surkati di Salatiga, Jawa Tengah. Selain mendalami ilmu agama dan ingin menjadi penghafal Al-Quran, Haydar juga terus rajin belajar untuk mewujudkan cita-citanya menjadi dokter. Ya, dia ingin jadi dokter yang juga seorang hafidz Quran. Dia ingin hidupnya bermanfaat dan bisa membantu banyak orang. Di pondok pesantren, setiap hari Haydar harus menghafalkan satu le...